Sejumlah negara di seluruh dunia telah membangun Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa untuk melindungi pantai mereka dari erosi dan banjir rob. Infrastruktur ini merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, dan memitigasi bencana alam. Korea Selatan, Belanda, Italia, dan Indonesia adalah beberapa negara yang telah menerapkan sistem ini.
Korea Selatan memiliki Giant Sea Wall yang disebut sebagai Saemangeum Seawall, tanggul laut terpanjang di dunia dengan panjang sekitar 33,9 kilometer. Proyek ini bertujuan untuk mendukung sektor pertanian, menyediakan lahan baru, pasokan air baku, serta pengembangan industri dan pariwisata. Di sisi lain, Belanda dikenal dengan Delta Works, sistem kompleks yang berfungsi sebagai tanggul laut untuk melindungi wilayah pesisirnya dari ancaman banjir dan badai.
Italia memiliki proyek MOSE yang dirancang untuk melindungi Kota Venesia dari banjir akibat pasang surut. Proyek ini diharapkan dapat mengatasi genangan air di Venesia yang disebabkan oleh fenomena “acqua alta”. Sementara itu, Indonesia memiliki Big Sea Wall Jakarta sebagai bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) untuk melindungi ibu kota dari risiko banjir rob dan penurunan permukaan tanah.
Meskipun pembangunan Giant Sea Wall memiliki manfaat yang besar, proyek ini juga dihadapi oleh tantangan ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Biaya pembangunan dan pemeliharaan yang tinggi menjadi perhatian utama, serta dampak potensial terhadap ekosistem pesisir dan keuntungan ekologi. Seiring dengan upaya untuk meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim, negara-negara yang melaksanakan proyek ini perlu memperhatikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dalam jangka panjang.








