Nilai tukar rupiah diprediksi akan menguat ke arah Rp16.400 per dolar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp16.480 per dolar AS. Pengamat pasar uang dan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, memperkirakan hal ini terjadi seiring dengan data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat (AS) bulan Februari 2025 yang menunjukkan kenaikan yang lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Inflasi AS pada bulan Februari juga diprediksi akan melambat, yang dapat memicu sentimen terkait pemotongan suku bunga The Fed dan mengakibatkan pelemahan dolar AS secara luas.
Selain itu, permintaan pasar terus mewaspadai ancaman perang dagang yang masih terjadi, terutama karena Presiden AS Donald Trump masih mengancam akan menaikkan tarif ke negara-negara lain, seperti negara-negara di Eropa. Berbagai faktor ini diharapkan dapat mendorong kurs rupiah untuk menguat dan bergerak ke arah Rp16.400 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran Rp16.480 per dolar AS.
Meskipun pada pembukaan perdagangan hari Kamis pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen, turun menjadi Rp16.453 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.452 per dolar AS. Tetapi, berbagai faktor fundamental yang telah disebutkan dapat mempengaruhi pergerakan kurs rupiah ke depannya. Jangan lewatkan berita terkait untuk memperoleh informasi terbaru terkait kurs rupiah dan kondisi pasar global.








