Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa implementasi layanan Quick Response Code Indonesian Standard tanpa pindai atau QRIS Tap diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan masyarakat. Melalui QRIS Tap, masyarakat yang tidak memiliki rekening bank diharapkan akan terdorong untuk membuka akun rekening dan mengakses layanan keuangan formal. BI bahkan telah memberlakukan tarif merchant discount rate (MDR) transaksi QRIS sebesar 0 persen, gratis dari sebelumnya 0,4 persen, khusus untuk merchant badan layanan umum (BLU) dan public service obligation (PSO).
Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, digitalisasi sistem pembayaran merupakan bagian dari program Asta Cita pemerintah. QRIS Tap telah diterapkan pada berbagai sektor, termasuk transportasi umum, BLU, PSO, sektor kesehatan, pariwisata, pendidikan, dan lainnya. Saat ini, QRIS Tap sudah dapat digunakan pada 2.353 merchant, termasuk transportasi umum, ritel, rumah sakit, UMKM, dan tempat parkir.
QRIS Tap dianggap sebagai game changer bagi Indonesia, mendukung perekonomian, mempermudah sistem pembayaran, serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dukungan juga datang dari Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang berperan dalam mendorong keberhasilan implementasi QRIS Tap. Hanya saat ini, ponsel dengan sistem operasi Android yang dapat menggunakan layanan QRIS Tap, sedangkan ponsel dengan sistem operasi iOS (Apple) belum mendukung layanan tersebut.
Sejumlah 15 penyelenggara jasa pembayaran (PJP), termasuk bank dan lembaga keuangan non-bank seperti BRI, BCA, BNI, Bank Mandiri, dan lainnya, sudah siap menyediakan layanan QRIS Tap. Masyarakat dapat menggunakan QRIS Tap dengan mudah melalui ponsel yang sudah dilengkapi dengan teknologi NFC dan terintegrasi dengan aplikasi mobile banking atau pembayaran lainnya. Implementasi QRIS Tap diharapkan akan terus meningkatkan inklusi keuangan masyarakat, sesuai dengan visi inklusi keuangan yang dicanangkan oleh Bank Indonesia.








