Bank Indonesia (BI) memastikan instrumen aset keuangan Indonesia, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), tetap menarik bagi investor asing. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan hal ini sebagai respons terhadap tekanan yang terjadi pada pasar saham belakangan ini. Pembekuan sementara perdagangan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) disebabkan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai lebih dari 5 persen. Perry menyampaikan imbal hasil (yield) SBN dan SRBI kompetitif dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, termasuk India. Stabilitas nilai tukar rupiah juga dipastikan oleh Bank Indonesia agar selisih imbal hasil tetap menarik bagi investor asing. Selain SBN, BI juga akan banyakkan instrumen-instrumen investasi seperti SRBI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), dan lainnya. Ketidakpastian di pasar keuangan global menjadi faktor penting dalam pergeseran portofolio investasi global. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan bahwa pasar saham khususnya menghadapi koreksi besar sejak awal tahun ini, dipengaruhi sentimen global. Aliran modal asing ke SBN dan SRBI pada Maret 2025 mencatat net inflows seiring imbal hasil yang menarik dan kondisi perekonomian yang baik. Investasi portofolio sejak awal tahun hingga 17 Maret 2025, mencatat net inflows didorong oleh SBN dan SRBI. Keyakinan BI terhadap instrumen aset keuangan Indonesia yang menarik bagi investor seiring dengan fundamental ekonomi yang terjaga baik. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 tetap positif, berkisar antara 4,7-5,5 persen.








