Inflasi Malaysia mengalami peningkatan perlahan sebesar 1,5 persen pada Februari 2025, menurut Departemen Statistik Malaysia (DOSM). Kepala Statistik Malaysia, Mohd Uzir Mahidin, mengungkapkan bahwa peningkatan inflasi pada Februari 2025 dipicu oleh perlambatan kenaikan inflasi pada beberapa kelompok utama. Diantaranya adalah perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya sebesar 2,3 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,5 persen, kesehatan 1,0 persen, transportasi 0,7 persen, serta dekorasi, perangkat keras, dan pemeliharaan rumah tangga sebesar 0,3 persen.
Namun, beberapa kelompok mencatat kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, terutama pada perawatan pribadi yang mencapai 3,7 persen, perlindungan sosial, barang, dan jasa sebesar 1,9 persen, serta pendidikan, asuransi, dan jasa keuangan sebesar 1,5 persen. Kelompok makanan dan minuman menyumbang 29,8 persen dari total Indeks Harga Konsumen, dengan kenaikan sebesar 2,5 persen pada Februari 2025.
Penyebab kenaikan harga santan segar dan santan instan masing-masing sebesar 27,0 persen dan 8,7 persen, serta kelangkaan pasokan kelapa di pasar lokal dan global juga berkontribusi pada peningkatan inflasi subkelompok makanan di rumah. Malaysia juga mengimpor 650 metrik ton kelapa tua untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri.
Inflasi negara bagian cenderung di bawah inflasi nasional, dengan empat negara bagian mengalami peningkatan di atas rata-rata nasional, seperti Johor sebesar 2,1 persen, Sarawak 1,9 persen, Selangor 1,9 persen, dan Malaka 1,6 persen. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, inflasi Malaysia (1,5 persen) tercatat lebih rendah dari Vietnam (2,9 persen) dan Filipina (2,1 persen), namun lebih tinggi dari Thailand (1,1 persen), Indonesia (-0,1 persen), dan China (-0,7 persen).








