Dalam Babad Ngayogyakarta, Diponegoro dianggap sebagai pemersatu budaya Arab dan Jawa, yang mengajarkan Hamengkubuwono IV mengenai huruf-huruf Jawa dan Arab setiap hari. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga kesimbangan agama dan budaya. Meskipun ada bahasa lain yang harus dipelajari seperti Inggris dan Belanda, tujuan utama Diponegoro adalah mempersiapkan HB-IV menjadi raja dengan belajar bahasa Jawa dan Arab. Babad Ngayogyakarta juga mencatat perjuangan Diponegoro melawan kolonialisme Belanda, yang menyebabkan ia dicap sebagai pemberontak.
Diponegoro diberikan label pemberontak karena ia tidak sejalan dengan konsep kolonial. Konsep kraman yang dianut Diponegoro menggabungkan nilai-nilai bela negara dan protes terhadap hal-hal yang dianggap tidak seharusnya. Selain itu, Babad Ngayogyakarta juga mengisahkan upaya pengumpulan kekuatan rakyat untuk melawan kafir, sesuai dengan ajaran Islam.
Kisah Diponegoro dalam Babad Ngayogyakarta tidak hanya menyoroti perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai agama dan budaya dalam menyatukan dua budaya yang berbeda. Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, Diponegoro dianggap sebagai tokoh yang memiliki peran besar dalam mempersatukan budaya Arab dan Jawa.








