Pembagian dividen dengan nilai yang tinggi oleh Himpunan Bank Milik Negara (Himbra) diyakini akan memberikan dampak positif bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), menurut Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee. Pasca pembentukan susunan pengurus yang dirasa positif oleh BPI Danantara, pasar memberikan respon yang positif karena dividen yang tinggi dan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh yang dipercaya memimpin Danantara. Hans mengatakan bahwa pembayaran dividen kepada investor adalah langkah yang baik jika perusahaan telah mengalokasikan dana pencadangan dan ekspansi untuk tahun depan. Sebagai contoh, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyetujui pembagian dividen sebesar Rp51,73 triliun atau 86,02 persen dari laba bersih tahun buku 2024, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyetujui pembagian dividen sebesar Rp43,5 triliun atau 78 persen dari laba bersih tahun buku 2024. Dampak dari pengalihan saham seri B milik BBRI dan BMRI akan dilakukan ke PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI, perusahaan holding operasional BPI Danantara. Jumlah saham seri B yang dialihkan dari BMRI sebanyak 48.533.333.333 lembar saham atau 52,00 persen, sedangkan dari BBRI sebanyak 80.610.976.875 lembar saham atau 53,19 persen. Kesepakatan pembagian dividen tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) masing-masing perusahaan, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh domestik dan global berpengalaman dalam sektor keuangan, investasi, dan pengelolaan dana. Dengan demikian, pembayaran dividen yang tinggi bisa memberikan manfaat positif bagi investor, terutama jika perencanaan keuangan perusahaan sudah termasuk alokasi dana untuk masa depan.








