Di Jakarta, sampah dan bau kerap dianggap sebagai pasangan tak terpisahkan. Hal ini juga berlaku di fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar atau lebih dikenal dengan nama pabrik RDF. Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, mengakui bahwa sulit untuk menghilangkan bau yang melekat pada tempat pengolahan sampah.
Meskipun sampah sudah tidak berada di fasilitas, bau masih tetap tercium. Pengalaman ini dialami warga sekitar RDF Rorotan di Jakarta Utara, yang telah merasakan bau busuk hampir selama dua bulan terakhir. Mereka tidak hanya merasakan bau sampah, tetapi juga bau lainnya seperti pesitida, sabun, dan zat kimia.
Bau yang keluar dari fasilitas RDF menuai protes dari warga setempat. Bahkan, ada laporan bahwa beberapa orang mengalami gangguan pernapasan dan masalah kesehatan setelah terpapar bau tersebut. Hal ini memicu aksi demo dan reaksi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di mana Gubernur Jakarta, Pramono Anung, memerintahkan untuk mengosongkan sampah dan produk RDF di fasilitas tersebut.
Untuk mengatasi masalah bau, fasilitas RDF Rorotan telah dilengkapi dengan berbagai teknologi seperti deodorizer, sterilisasi sinar ultraviolet, filter karbon aktif, serta alat pengendali emisi seperti cyclone web scrubber. Selain itu, terdapat Instalasi Pengolahan Air Limbah, pohon-pohon, serta aturan khusus bagi truk pengangkut sampah.
Meskipun terdapat beberapa kendala terkait bau yang masih tercium, upaya terus dilakukan untuk memperbaiki kondisi fasilitas RDF Rorotan. Diharapkan dengan penyempurnaan teknologi dan uji coba yang bertahap, fasilitas tersebut dapat beroperasi tanpa mengganggu warga sekitar. Menyusul implementasi berbagai perbaikan, pabrik RDF Rorotan diharapkan dapat beroperasi secara resmi pada bulan Juli 2025.








