Pada bulan Maret 2025, Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M Habibullah mengungkapkan bahwa dua provinsi, yaitu Bengkulu dan Papua Barat, mengalami deflasi secara year-on-year (yoy). Dari 38 provinsi yang ada, 36 mengalami inflasi dan sisanya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sementara inflasi terendah terjadi di Papua Barat Daya. Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Jayawijaya sementara inflasi terendah terjadi di Kota Tanjung Pinang.
Menanggapi inflasi bulanan, setiap provinsi mengalami inflasi dengan Gorontalo menduduki peringkat tertinggi dan Papua Pegunungan peringkat terendah. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota, Kabupaten Toli Toli memiliki inflasi bulanan tertinggi dan Kabupaten Jayawijaya memiliki inflasi bulanan terendah. Secara keseluruhan, inflasi bulanan pada Maret 2025 mencapai 1,65 persen dengan inflasi tahunan sebesar 1,03 persen.
Habibullah juga menyoroti penyumbang utama inflasi baik secara bulanan maupun year-on-year, di antaranya kelompok perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Komoditas seperti tarif listrik, cabai rawit, dan bawang merah menjadi faktor utama penyebab inflasi. Dengan demikian, situasi ini menjadi pantauan penting dalam mengelola kebijakan ekonomi ke depan.








