Wakil Menteri BUMN, Aminuddin Ma’ruf, melihat kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat sebagai kesempatan penting bagi Indonesia untuk menghidupkan kembali industri nasional dan mengoptimalkan potensi domestik. Dalam acara Puncak Dharma Santi BUMN 2025 di Jakarta, Aminuddin menyatakan bahwa kebijakan Donald Trump juga dapat memacu Indonesia untuk lebih cepat melakukan transformasi industri dan meningkatkan daya saing BUMN secara agresif dan terencana. Meskipun tidak memberikan detail tentang dampak langsung kebijakan tersebut pada BUMN, Aminuddin menekankan pentingnya membangun industri yang kuat dan mandiri melalui revitalisasi.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak Presiden AS untuk mempertimbangkan perlakuan yang adil terhadap Indonesia, mengingat hubungan erat yang telah terjalin lama antara kedua negara. Prabowo juga mengutus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, untuk membahas masalah tarif dengan pemerintah AS di Washington. Prabowo optimistis bahwa ada jalan tengah yang bisa disepakati oleh kedua belah pihak.
Indonesia terkena dampak tarif resiprokal sebesar 32 persen dari AS, sedangkan beberapa negara ASEAN lainnya juga mendapat tarif yang berbeda. Prabowo menilai bahwa Indonesia sebetulnya telah cukup banyak mengimpor minyak dan gas dari luar negeri, namun prosesnya kurang efisien karena melibatkan banyak broker. Dalam konteks tersebut, Pertamina diminta untuk mempertimbangkan impor dari negara yang saling menguntungkan.
Kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan AS memang menjadi tantangan bagi Indonesia, namun juga merupakan kesempatan untuk memperkuat industri dalam negeri. Dengan pendekatan yang bijak dan strategis, Indonesia berharap dapat menemukan solusi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.








