Pelatih Prawira Bandung, David Singleton, telah menegaskan bahwa semua pemain bertanggung jawab atas setiap hasil pertandingan di Indonesian Basketball League (IBL) 2025. Menurutnya, tidak seorang pun pemain harus disalahkan secara individual atas hasil buruk yang diperoleh tim. Ia memberi contoh kekalahan terakhir dengan skor 87-94 melawan Dewa United Banten sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya beban bagi satu pemain, seperti Yudha Saputera.
Singleton menunjukkan bahwa Solano, pebasket terbaik di IBL, mungkin sedikit memaksa diri dan tidak bermain di level maksimalnya. Selama pertandingan tersebut, Yudha Saputera, guard andalan klub, menghadapi pertahanan ketat dari Gelvis Solano dan mencatatkan sembilan turnover yang dimanfaatkan lawan untuk menyerang. Singleton menekankan bahwa Yudha telah berusaha dengan maksimal namun mungkin tidak bisa beradaptasi dengan cepat, dan kesalahan yang ia lakukan tidak sesuai dengan karakter permainannya.
Pelatih tersebut juga mengimbau kepada para penggemar untuk tidak menyalahkan satu pemain atas hasil buruk yang didapat. Dia mengakui bahwa dalam pertandingan tersebut, ada banyak faktor yang membuat tim Prawira Bandung kalah, termasuk keluarnya Victory Lobbu karena foul out. Singleton merasa bahwa kehilangan Lobbu juga berdampak signifikan karena tim kehilangan pemain pengganti dalam membawa bola atau memberikan assist.
Dalam penjelasannya, Singleton menegaskan bahwa dalam babak kedua pertandingan melawan Dewa United Banten, timnya kehilangan kesenangan, energi, kekuatan, dan permainan fisik, yang menyebabkan hasil buruk. Ini merupakan pengalaman yang pahit namun harus dijadikan pelajaran bagi tim untuk memperbaiki performa di pertandingan selanjutnya. Pelatih asal Amerika Serikat tersebut juga menegaskan perlunya dukungan dari para penggemar untuk memotivasi tim dalam menghadapi tantangan di IBL 2025.








