Bank Indonesia (BI) dihadapkan pada tekanan besar terkait nilai tukar rupiah, menurut ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky. Meskipun tingkat inflasi masih terjaga setelah diskon tarif listrik 50 persen berakhir pada Maret 2025, ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan. Prediksi tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang sebagai dampak dari ketidakpastian global yang dipicu oleh tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Akumulasi arus modal keluar dari Indonesia mencapai 1,99 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir, menyebabkan depresiasi rupiah hingga 2,59 persen. Selain itu, kekhawatiran terkait tingkat inflasi dalam negeri juga disampaikan oleh Riefky, terutama setelah berakhirnya program subsidi tarif diskon listrik yang menyebabkan tekanan deflasi temporer. Prediksi meningkatnya inflasi seiring dengan berakhirnya diskon tarif angkutan udara untuk periode libur Idul Fitri juga menjadi perhatian.
Dalam konteks ini, BI kemungkinan tidak akan melakukan kebijakan pemangkasan suku bunga karena berisiko memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Oleh karena itu, Teuku Riefky merekomendasikan agar BI mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur di April 2025. Pernyataan resmi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan akan diumumkan pada siang hari. Selain itu, IHSG diprediksi mendatar seiring ekspektasi bahwa BI-Rate akan tetap stabil menurut para ekonom.æžœAda link sumber dapat ditemukan di sini.








