Pejabat Federal Reserve membuka peluang untuk melakukan pemotongan suku bunga pada bulan Juni jika ada indikasi resesi yang meningkat. Menurut analis mata uang dan Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, keputusan ini ikut mempengaruhi penguatan nilai tukar rupiah. Pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack dan Gubernur Federal Reserve Christopher Waller juga memberikan sinyal bahwa pemotongan suku bunga bisa dilakukan secepatnya jika data pasar menunjukkan perlunya tindakan. Pelonggaran kebijakan selanjutnya oleh Federal Reserve akan diantisipasi oleh pasar, dengan prospek pemotongan suku bunga yang agresif pada bulan Juni. Hal ini diyakini akan memengaruhi nilai tukar rupiah, dimana pada penutupan perdagangan hari ini rupiah menguat menjadi Rp16.829 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level yang sama. Dengan perkembangan ini, para ekonom juga menambahkan bahwa nilai tukar rupiah tetap stabil di tengah kebijakan tarif Amerika Serikat. Menarik untuk diikuti bagaimana kebijakan Federal Reserve akan berdampak pada nilai tukar rupiah ke depan.








