Presiden Prabowo Subianto telah memberikan bantuan pengadaan 1.000 burung hantu untuk membantu petani Majalengka, Jawa Barat dalam membasmi hama tikus di ladang mereka. Hal ini sejalan dengan upaya untuk mendukung penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA) dan mengatasi tantangan yang dihadapi petani dalam menerapkannya.
IPHA merupakan inovasi dalam pertanian padi yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan mengurangi penggunaan air hingga 30 persen dibandingkan metode konvensional. Namun, salah satu masalah yang dihadapi petani dalam menerapkan IPHA adalah meningkatnya ancaman hama tikus akibat perubahan lingkungan sawah yang lebih dangkal.
Untuk itu, penggunaan burung hantu, khususnya spesies Tyto alba, telah terbukti efektif sebagai predator alami dalam mengendalikan populasi tikus di persawahan. Beberapa daerah di Indonesia seperti Indramayu, Cirebon, dan Grobogan telah berhasil mengimplementasikan metode ini dengan sukses.
Penggunaan burung hantu sebagai solusi alami tidak hanya membantu mengurangi kerusakan akibat tikus, tetapi juga berkontribusi pada pertanian yang lebih ramah lingkungan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Meskipun telah terbukti efektif, perlu dilakukan pemantauan dan pengelolaan populasi burung hantu secara bijaksana agar tetap terjaga keseimbangan ekosistem di sekitar sawah.
Dengan langkah-langkah koordinatif dan terencana, pengadaan burung hantu ini diharapkan dapat mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan, meningkatkan hasil panen, serta menjaga kelestarian lingkungan. Semua upaya ini bertujuan untuk mencapai swasembada pangan nasional yang stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.








