Setiap tahun, hari pertama bulan Mei menjadi momen untuk menghargai kelas pekerja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sinema, sebagai medium yang menarik, seringkali digunakan untuk memperlihatkan kehidupan para pekerja dengan cara yang puitis. Beberapa film Indonesia seperti “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”, “Home Sweet Loan”, dan “1 Kakak 7 Ponakan” telah berhasil menyoroti isu-isu ekonomi-sosial ini dengan cara yang mencolok.
Contoh film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”, yang disutradarai dan dibintangi oleh Deddy Mizwar, bertutur tentang kesulitan seorang sarjana manajemen bernama Muluk dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Film ini mencerminkan realitas sosial di mana banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia menganggur, seperti data dari Badan Pusat Statistik yang mencatat jumlah lulusan pengangguran mencapai 842.378 orang pada tahun 2024.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengakui adanya ketidakcocokan antara keterampilan lulusan sarjana dengan kebutuhan industri, serta menyebutkan perlunya pembaharuan dalam sistem pendidikan dan pelatihan vokasi. Film-film seperti “Home Sweet Loan” dan “1 Kakak 7 Ponakan” juga menyoroti tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi pekerja muda di Indonesia, terutama terkait kesulitan mereka dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Dalam rangka mengatasi tantangan ini, pemerintah perlu terlibat aktif dalam meningkatkan jaminan sosial, menyediakan pendidikan dan pelatihan yang relevan, serta menguatkan kebijakan sosial terkait kesejahteraan pekerja. Melalui karya seni seperti film, kita dapat melihat realitas kehidupan para pekerja dan secara kolektif berkomitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi mereka. Semoga tantangan ini dapat diatasi untuk mencapai “happy ending” yang nyata bagi para pekerja Indonesia.








