Pasar modal merupakan salah satu aspek penting dalam sektor keuangan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Menurut Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, pengembangan pasar modal menjadi kunci utama dalam menghasilkan ekonomi yang bergerak dinamis. Dalam diskusi virtual, Wijayanto menyatakan bahwa pasar modal yang kuat mampu menekan suku bunga perbankan karena memberikan alternatif sumber pembiayaan yang lebih beragam. Ia juga menyoroti kinerja perbankan yang belum efisien, terutama terlihat dari Net Interest Margin (NIM) yang masih cenderung lebar. Dalam kondisi seperti ini, permintaan akan Surat Berharga Negara (SBN) yang memberikan bunga lebih tinggi dengan risiko yang lebih rendah menjadi pilihan yang lebih menarik daripada kredit perbankan yang dianggap mahal. Oleh karena itu, Wijayanto mendorong pemerintah untuk fokus pada efisiensi sektor keuangan sebagai respons terhadap kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Memperkuat pasar modal di Indonesia dianggap sebagai langkah yang tepat dalam mempersiapkan ekonomi yang lebih tangguh di masa depan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menunjukkan bahwa likuiditas industri perbankan masih cukup kuat dengan rasio liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 210,14 persen. Dengan langkah yang tepat dan kebijakan yang mendukung, diharapkan sektor keuangan dan pasar modal di Indonesia dapat berkembang secara efisien dan berkelanjutan.








