Di Jakarta Timur, Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) intensif memperkuat peran juru pemantau batuk (jumantuk) sebagai langkah untuk mendeteksi kasus Tuberkulosis (TBC) secara dini. Herwin Meifendy, Kepala Sudinkes Jakarta Timur, menjelaskan bahwa jumantuk adalah kader kesehatan yang bertugas memantau orang yang mengalami gejala batuk dan mendorong mereka untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Setelah gejala TBC ditemukan, kader jumantuk melaporkan kasus tersebut kepada petugas kesehatan yang berwenang.
Selain itu, kader jumantuk juga memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan dan pengobatan TBC. Pemeriksaan dan pengobatan TBC yang dilakukan oleh Sudinkes Jakarta Timur tidak dikenakan biaya dan pemberian makanan tambahan (PMT) juga dapat dilakukan jika diperlukan. Wali Kota Jakarta Timur, Munjirin, bersama jajaran kesehatan setempat juga mengambil langkah jemput bola untuk mendeteksi penderita TBC secara langsung.
Data dari Sudin Kesehatan Jakarta Timur menunjukkan bahwa sebanyak 2.645 warga positif mengidap TBC selama periode Januari hingga Maret 2025, dengan sebagian besar kasus terjadi di Pulogadung, Ciracas, Cakung, dan Pasar Rebo. Meskipun demikian, keberhasilan pengobatan pasien TBC mencapai 65 persen, artinya sebanyak 2.285 warga sudah sembuh dari penyakit tersebut. Langkah-langkah preventif dan penyuluhan terus dilakukan untuk memerangi penyebaran TBC di Jakarta Timur.








