Bursa saham regional Asia mengalami kenaikan yang didorong oleh serangkaian stimulus kebijakan China. Hal ini terjadi setelah Bank Sentral China memangkas suku bunga pinjaman utamanya untuk pertama kalinya sejak Oktober 2024. Pasar merespons positif terhadap kebijakan moneter PBoC tersebut, yang bertujuan untuk mendukung ekonomi yang lesu dan untuk meniadakan dampak kenaikan tarif Amerika Serikat.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan arah kebijakan moneter Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Mei 2025. Secara umum, para pelaku pasar memperkirakan bahwa BI akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen dari sebelumnya 5,75 persen. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pelaku usaha untuk berinvestasi lebih banyak, yang pada akhirnya akan menopang pertumbuhan ekonomi.
Pada hari tersebut, IHSG dibuka menguat namun akhirnya ditutup melemah. Beberapa sektor saham mengalami kenaikan, seperti sektor kesehatan dan transportasi & logistik. Namun, ada juga sektor yang mengalami penurunan, terutama sektor industri, barang konsumen non primer, dan barang konsumen primer.
Sejumlah saham, seperti PICO, COCO, TRIN, LAJU, dan PTIS, mengalami penguatan, sementara saham-saham seperti KOPI, DKHH, NAIK, IDPR, dan TCID, mengalami pelemahan. Frekuensi perdagangan saham juga meningkat, dengan sebanyak 247 saham naik, 288 saham turun, dan 372 saham tidak bergerak nilainya.
Secara keseluruhan, bursa saham regional Asia juga mengalami kenaikan, di mana indeks Nikkei, Hang Seng, Shanghai, dan Strait Times masing-masing menguat. Dengan adanya stimulus kebijakan China dan proyeksi kebijakan moneter dari Bank Indonesia, pasar saham regional Asia diharapkan dapat terus stabil dan meningkat dalam waktu yang akan datang.







