Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas karena kekhawatiran atas defisit fiskal Amerika Serikat (AS) yang masih berlanjut. Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, kekhawatiran tersebut dipicu oleh langkah pemungutan suara di seluruh majelis AS terkait Rancangan Undang-Undang Pemotongan Pajak AS yang mencakup berbagai aspek seperti peningkatan pengeluaran untuk penegakan hukum imigrasi dan militer, serta perpanjangan pemotongan pajak tahun 2017.
Terkait dengan hal ini, RUU tersebut juga mencakup pemotongan untuk program-program seperti Medicaid, bantuan pangan, dan energi bersih, yang dapat berdampak pada rating kredit AS menurut Moody’s. Di sisi lain, pernyataan hawkish dari beberapa pejabat Federal Reserve (The Fed) seperti Raphael Bostic dan John Williams memperkuat posisi dolar AS.
Mengikuti berbagai faktor tersebut, perkiraan kurs rupiah berada dalam kisaran Rp16.400-Rp16.500 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan hari Selasa, kurs rupiah menguat sedikit menjadi Rp16.425 per dolar AS. Dengan berbagai peristiwa ekonomi global yang mempengaruhi nilai tukar mata uang, pergerakan rupiah terhadap dolar AS tetap dipantau dengan cermat.








