Sampdoria memiliki peluang untuk terhindar dari degradasi ke divisi ketiga Italia, Serie C, karena keputusan pengurangan empat poin yang diberikan kepada Brescia oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). Sebelumnya, Sampdoria finis di peringkat 18 klasemen akhir Serie B setelah bermain imbang 0-0 dalam laga terakhir pada 13 Mei. Meskipun seharusnya mereka terdegradasi bersama dua tim terbawah lainnya, namun dengan sanksi terhadap Brescia, posisi Sampdoria naik ke peringkat 17. Sekarang, Sampdoria akan menghadapi playoff degradasi dua leg melawan Salernitana pada 15 dan 20 Juni. Meski begitu, Brescia masih memiliki kesempatan untuk mengajukan banding sebelum laga playoff tersebut dilangsungkan.
Sampdoria, yang merupakan juara Liga Italia 1991 dan finalis Liga Champions 1992, adalah salah satu dari tujuh klub Italia yang belum pernah bermain di Serie C sepanjang sejarahnya. Klub ini terdegradasi ke Serie B pada tahun 2023 dan hampir saja bangkrut sebelum diselamatkan oleh Matteo Manfredi dan mantan pemilik Leeds United, Andrea Radrizzani. Saat ini, mayoritas saham klub dipegang oleh pengusaha asal Singapura, Joseph Tey. Musim ini, Sampdoria mengalami kerugian hingga 40,7 juta euro (Rp 707 miliar) dan berusaha untuk menyelamatkan tim dengan menunjuk Alberico Evani dan Attilio Lombardo sebagai pelatih sejak bulan April. Evani adalah pelatih keempat yang dipercayakan kepada mereka musim ini setelah Andrea Pirlo, Andrea Sottil, dan Leonardo Semplici.
Klasemen Serie A saat ini menunjukkan Juventus berhasil lolos ke Liga Champions, sementara Venezia harus terdegradasi. Semua ini menjadi sorotan dalam perjalanan Sampdoria untuk menghindari degradasi dan memberikan harapan baru bagi tim untuk terus bersaing di level kompetisi yang lebih tinggi. Selain itu, keberhasilan klub dalam menarik investasi dan mengelola secara efisien juga menjadi faktor penting dalam pemulihan dan keberlanjutan masa depan klub ini. Semua langkah ini menunjukkan upaya serius Sampdoria dalam mempertahankan posisinya di dunia sepakbola Italia.








