Rupiah diprediksi akan menguat terhadap dolar AS karena sentimen negatif terkait ancaman tarif dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap industri baja dan aluminium. Trump mengumumkan kenaikan tarif impor baja dan aluminium menjadi 50 persen untuk melindungi industri dalam negeri AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa hal ini akan menutup celah bagi pesaing asing yang memanfaatkan tarif sebelumnya. Namun, data Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia menunjukkan kontraksi, membatasi penguatan kurs rupiah. Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin menguat sedikit menjadi Rp16.325 per dolar AS. Ini menunjukkan bahwa situasi global yang terus berubah dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Menurut Lukman, perlunya memperhatikan faktor-faktor eksternal dan sentimen global dalam memprediksi pergerakan mata uang lokal. Selain itu, kebijakan tarif yang diterapkan oleh negara-negara besar seperti AS juga dapat berdampak pada pasar keuangan Indonesia.








