Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi untuk menguat dalam perdagangan Jumat. Pelaku pasar masih ragu-ragu akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan kesiapannya untuk memperpanjang tenggat waktu negosiasi tarif dengan negara mitra dagang. Meskipun demikian, IHSG masih berpeluang untuk terus meningkat asalkan tetap kuat di support 7.200.
Trump mengungkapkan bahwa dia bersedia memperpanjang tenggat waktu hingga 8 Juli untuk menyelesaikan negosiasi dagang, tetapi meragukan kebutuhan perpanjangan itu. Dia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan besar dengan China dan sedang dalam proses negosiasi dengan negara lain seperti Jepang dan Korea Selatan. Trump juga mengisyaratkan tarif atas impor China dapat mencapai 55 persen, sebuah tindakan yang diamini oleh Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick.
Di sisi lain, sektor saham Boeing mengalami penurunan hampir 5 persen setelah terjadi insiden kecelakaan pesawat Dreamliner 787 milik Air India dengan 242 penumpang. Di Eropa, Inggris dijadwalkan akan merilis data GDP bulan April 2025 yang diperkirakan mengalami penurunan -0,1 persen dari bulan sebelumnya. Di Jepang, data Industrial Production bulan April 2025 juga diperkirakan akan turun menjadi 0,7 persen, sementara di dalam negeri, pasar mengantisipasi pertumbuhan Retail Sales bulan April 2025 sebesar 2,1 persen, menurun dari realisasi sebelumnya 5,5 persen.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa cenderung melemah, dengan indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,23 persen dan indeks DAX Jerman turun 0,74 persen. Namun, di Wall Street AS, indeks S&P naik 0,38 persen, Nasdaq Composite menguat 0,24 persen, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,24 persen. Perkembangan ini menggambarkan situasi perdagangan global yang dinamis dan memberikan gambaran potensi pergerakan IHSG ke depan.








