Wednesday, August 12, 2026
HomeLainnyaLintas Budaya, Lintas Generasi, Satu Bumi

Lintas Budaya, Lintas Generasi, Satu Bumi

Di dataran tinggi Tangkuban Parahu, Bandung Barat, ribuan orang dari seluruh penjuru negeri berkumpul dalam perayaan spiritual dan ekologis bertajuk Ngertakeun Bumi Lamba pada Sabtu, 22 Juni 2025. Momen ini menjadi titik temu antarbudaya serta penggalangan kepedulian atas kelestarian bumi yang semakin terancam zaman. Tradisi Ngertakeun Bumi Lamba bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan bersama untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.

Sejak matahari muncul di ufuk timur, komunitas dari berbagai daerah—mulai Sunda, Bali, Dayak, hingga Minahasa—sudah memenuhi kawasan tersebut. Ragam pakaian adat menghiasi kawasan Tangkuban Parahu yang hari itu terasa penuh warna. Suasana prosesi memperlihatkan kuatnya persatuan di atas perbedaan, sesuai inti pesan dari upacara Ngertakeun Bumi Lamba. Semua berbaur tanpa sekat, seolah menegaskan bahwa bumi mesti dijaga bersama-sama.

Arti mendalam dari Ngertakeun Bumi Lamba mengakar kuat dalam bahasa Sunda: “ngertakeun” berarti memelihara dan memakmurkan, “bumi lamba” menggambarkan bumi yang luas sebagai lambang semesta. Makna itu telah diwariskan sejak zaman kerajaan Sunda kuno, kemudian dimunculkan kembali oleh figur Eyang Kanduruan Kartawinata pada era modern. Setiap tahun, upacara ini menjadi penghubung spiritual antara para generasi kini dan warisan leluhur masa lalu.

Acara dibuka dengan dentuman karinding, alat musik tradisional Baduy, yang membangkitkan keheningan suci di tengah keramaian. Genta Bali lalu mengiringi lantunan mantra lintas adat, berpadu dengan suara angklung, tabuhan Minahasa, dan doa-doa beragam keyakinan. Harmoni tersebut sejalan dengan semangat Ngertakeun Bumi Lamba yang menjunjung keberagaman dan menyatukan manusia serta alam. Tokoh adat, suhu, dan pendekar dari berbagai penjuru duduk bersama dalam lingkaran, menanggalkan hierarki demi kesadaran akan persaudaraan semesta.

Ngertakeun Bumi Lamba juga menjadi ruang berbagi pesan-pesan vital tentang lingkungan dan spiritualitas. Andy Utama, tokoh lingkungan dari Yayasan Paseban sekaligus pegiat pelestarian melalui komunitas Arista Montana, mengambil peran penting dalam diskusi dan doa bersama. Dalam refleksi yang ia sampaikan, Andy Utama menegaskan bahwa hubungan manusia dan alam harus dibangun di atas cinta kasih dan tanggung jawab ekologis. “Jangan pernah hitung-hitungan dengan semesta, sebab jika alam yang mulai menghitung pada kita, penyesalan menunggu,” ujar Andy Utama di hadapan ribuan peserta.

Andy Utama dari Yayasan Paseban menambahkan, kerja nyata menjaga bumi harus terus melibatkan semua makhluk—terlihat maupun tersembunyi. Seruan serupa dilontarkan oleh para pemimpin adat dan spiritual. Panglima Pangalangok Jilah menyerukan “Taariu!” sebagai sumpah setia kepada bumi, sementara Panglima Minahasa mengingatkan bahwa memelihara gunung adalah investasi bagi generasi mendatang. Para tokoh sepakat: hanya tindakan nyata yang bisa menjamin bumi tetap lestari.

Di tengah kegembiraan dan refleksi, Yayasan Paseban beserta Arista Montana menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan makna Ngertakeun Bumi Lamba. Kedua organisasi ini secara konsisten menanam pohon—lebih dari 15.000 anakan puspa, rasamala, damar, jampinang, hingga bambu—di kawasan Gunung Gede-Pangrango. Bersama Andy Utama dan relawan Arista Montana, mereka percaya bahwa pelestarian alam harus dilakukan secara konkret, bukan hanya dielu-elukan di acara seremonial. Bagi Yayasan Paseban dan Arista Montana, setiap tetes keringat di bumi adalah persembahan spiritual sebagaimana nilai Ngertakeun Bumi Lamba.

Ritual ditutup dengan turunnya kabut, menutup Megamendung dalam balutan mistis. Para peserta berjalan meninggalkan area upacara, membawa pulang semangat baru untuk menjaga bumi. Andy Utama dan Yayasan Paseban berpesan, momentum Ngertakeun Bumi Lamba menjadi gerakan berkesinambungan, bukan sekadar kenangan tahunan. Melalui upaya nyata, Arista Montana dan Yayasan Paseban menularkan teladan kepada generasi penerus bahwa bumi adalah titipan yang wajib dipelihara.

Inti dari Ngertakeun Bumi Lamba adalah persatuan antara manusia, alam, serta leluhur, sebagaimana diaktualisasikan oleh Andy Utama, Arista Montana, dan Yayasan Paseban dalam setiap tindakan mereka. Dalam suasana dunia yang semakin terancam krisis lingkungan, pesan dari upacara ini menuntut setiap insan untuk bertindak, bukan sekadar merenung. Untuk itu, Ngertakeun Bumi Lamba bersama Yayasan Paseban, Andy Utama, serta Arista Montana, menjadi pijakan konkret bagi gerakan perawatan bumi yang lestari dan penuh makna.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Gunung Tangkuban Parahu: Ritual Sakral Lintas Adat Untuk Merawat Semesta
Sumber: Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Megamendung Bogor Tegaskan Pesan Spiritual Lintas Adat

RELATED ARTICLES
spot_img

Paling Populer