Nilai tukar rupiah kembali melemah dipengaruhi oleh data Purchasing Managers’ Index (PMI) Jasa Amerika Serikat (AS) yang tetap solid. Hal ini disampaikan oleh Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Taufan Dimas Hareva. Penguatan dolar AS yang terbatas setelah rilis data ekonomi AS yang bervariasi, membuat rupiah melemah hingga 25 poin atau 0,15 persen menjadi Rp16.320 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga turun ke level Rp16.325 per dolar AS. Data S&P Global US Flash PMI menunjukkan indeks output Komposit PMI AS naik dari 52,9 pada Juni menjadi 54,6 bulan ini. Sektor jasa menjadi pendorong utama, dengan aktivitas bisnis meningkat, termasuk Indeks Aktivitas Bisnis PMI Sektor Jasa yang naik menjadi 55,2 dari 52,9.
Meskipun output manufaktur juga meningkat, pertumbuhan produksi melambat menunjukkan ekspansi moderat. Data penting ini memperkuat harapan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga, memberikan kesempatan bagi mata uang seperti rupiah untuk stabil. Pasar juga menantikan rilis data Durable Goods Orders AS yang dapat memengaruhi arah dolar dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pelemahan nilai tukar rupiah dipandang sebagai respons yang wajar atas dinamika ekonomi global.








