Proses panen raya di Cirebon, Jawa Barat, menghasilkan peningkatan antusiasme petani dalam menjual gabah setelah harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram. Kepala Perum Bulog Cirebon, Ramaijon Purba, menyatakan bahwa banyak petani menampilkan minat yang tinggi untuk menjual gabah langsung ke Bulog melalui Babinsa dan penyuluh. Penjemputan gabah dilakukan dengan sistem H-1, di mana petani diminta untuk mendaftar sehari sebelumnya melalui jejaring penyuluh.
Meskipun terdapat tantangan terkait kualitas gabah akibat kondisi cuaca saat panen awal, petani tetap memperlihatkan respons positif. Bulog memberikan fleksibilitas dalam menerima gabah, memberikan kepastian penyerapan meskipun kondisi pascapanen tidak ideal. Setelah melewati awal musim panen dengan kualitas gabah yang buruk akibat curah hujan tinggi, kualitas gabah membaik seiring dengan perbaikan cuaca.
Bulog Cirebon berhasil mencatat penyerapan gabah petani yang mencapai 133.624 ton setara beras hingga Juli 2025, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Stok cadangan beras pemerintah di Gudang Bulog Cirebon telah mencapai 175 ribu ton, yang disimpan di berbagai gudang aman milik Bulog, baik induk maupun filial. Kehadiran Bulog di daerah terpencil yang sulit dijangkau swasta penting untuk menjaga harga gabah petani agar tidak jatuh di bawah ketetapan pemerintah.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menegaskan bahwa Bulog harus hadir di daerah-daerah terpencil untuk menjaga harga gabah agar tetap layak. Jika harga gabah di suatu wilayah jatuh di bawah Rp6.500 per kilogram, Bulog akan langsung menyerap dengan harga tersebut untuk mencegah ketimpangan kesejahteraan petani. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan petani melalui kebijakan yang tepat.








