Pasar saham regional Asia mengalami kenaikan ketika pasar mencari arah yang jelas di tengah dinamika perdagangan global, terutama akibat tarif dagang yang diberlakukan oleh Presiden AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada Kamis sore, dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi. IHSG mengalami penurunan sebesar 13,57 poin atau 0,18 persen menjadi 7.490,18, sementara indeks LQ45 naik 5,98 poin atau 0,76 persen menjadi 795,57.
Bursa regional Asia mengalami kenaikan karena pasar sedang mencari arah yang jelas, terutama setelah Presiden AS memberlakukan tarif dagang yang berdampak global. Pelaku pasar mempertimbangkan efek dari kebijakan tarif dagang Presiden AS Donald Trump dan kebijakan The Fed. Selain itu, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed juga turut mempengaruhi pasar.
Dari luar negeri, Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif terhadap India dan mempertimbangkan penggantian Gubernur The Fed. Di sisi lain, pasar juga mencermati data perdagangan China yang mengalami surplus. Di dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa yang sedikit menurun. Meskipun IHSG sempat menguat pada pembukaan, namun pada akhirnya mengalami penurunan.
Sektor barang baku menjadi pendorong kenaikan IHSG, sementara sektor teknologi mengalami penurunan paling dalam. Saham FUTR, KBLV, MBTO, SMGA, dan CSIA mengalami kenaikan harga terbesar, sementara saham LUCK, JARR, IDEA, PLAN, dan CDIA mengalami penurunan harga terbesar. Transaksi saham mencapai 2.036.293 kali dengan total saham yang diperdagangkan senilai Rp16,77 triliun.
Bursa saham regional Asia juga mengalami kenaikan, seperti indeks Nikkei, Shanghai, Hang Seng, dan Strait Times yang semuanya menguat. Kondisi ini menunjukkan dinamika perdagangan yang fluktuatif di pasar saham Asia.








