Situasi di sekitar Mako Brimob Kwitang, Jakarta Pusat, masih gelap gulita hingga Sabtu malam karena bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian terus terjadi. Massa masih terus melempari polisi dengan berbagai benda seperti botol, batu, petasan, dan kembang api, sementara polisi merespons dengan tembakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Kondisi di sepanjang Jalan Kramat Kwitang minim penerangan karena sebagian besar lampu jalan padam, hanya menyisakan cahaya di depan gerbang Mako Brimob. Asap gas air mata mengepul pekat dan menyebar ke berbagai arah, membuat mata dan hidung perih, yang dirasakan tidak hanya oleh aparat kepolisian tetapi juga oleh awak media di lokasi.
Disamping aparat kepolisian, personel TNI juga masih berjaga di beberapa titik sepanjang jalan. Akses ke Mako Brimob ditutup untuk mencegah eskalasi bentrokan. Bentrokan dimulai saat massa menembus barisan aparat TNI yang berjaga di dekat Mako Brimob. Meski sempat terpukul mundur, sebagian massa tetap bertahan dan melawan dengan menyalakan petasan. Unjuk rasa ini merupakan lanjutan dari aksi protes terhadap insiden mobil rantis Brimob yang menabrak pengemudi ojek daring, Affan Kurniawan, hingga meninggal dunia di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (28/8) malam. Protes ini juga disertai dengan bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian.








