Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta mengemukakan bahwa pendidikan mitigasi kebencanaan ala Jepang (bosai) belum dapat sepenuhnya diadaptasi di Jakarta karena perlu penyesuaian dengan budaya lokal. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, dalam sebuah acara “Podcast Sarana Obrolan Bareng tentang Serba-Serbi Kebencanaan”. Menurut Yohan, perhatian terhadap mitigasi bencana di Jakarta telah meningkat beberapa tahun terakhir, termasuk melalui konsep “Tas Siaga Bencana” yang harus disiapkan setiap anggota keluarga. Tas tersebut berisi perlengkapan penting untuk bertahan hidup minimal selama tiga hari saat bencana atau kondisi darurat terjadi.
Tas Siaga Bencana meliputi dokumen dan surat berharga, pakaian ganti, alat penerangan, uang tunai, obat-obatan, perlengkapan P3K, telepon seluler, power bank, makanan ringan, masker, dan pencuci tangan. Yohan juga menyebut peningkatan kekhawatiran terkait potensi bencana Megatrust yang tidak terjadi selama 276 tahun, yang mendorong pentingnya persiapan dalam mitigasi bencana.
Dalam acara tersebut, Managing Director NPO Federation of Bosai Education Hyogo, Hiroyuki Nakanishi, mengemukakan bahwa pendidikan penanganan bencana merupakan hal krusial. Di Jepang, pendidikan kebencanaan sudah menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah sejak tahun 2018. Hiroyuki menekankan peran penting pemerintah dan masyarakat dalam kesuksesan pendidikan kebencanaan. Sementara Chief Executive Officer Wownas.Co.Ltd, Akiko Sakaguchi, menyampaikan bahwa mitigasi kebencanaan di Jepang sudah menjadi gaya hidup, dengan tas sekolah dilengkapi peluit untuk memanggil pertolongan saat terjadi gempa. Media, menurut Akiko, juga memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan kebencanaan.








