Pagi ini, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan, didorong oleh harapan pelaku pasar terhadap lanjutan negosiasi antara AS dan Iran. IHSG dibuka lebih tinggi dari sebelumnya, naik 98,61 poin atau 1,31 persen menjadi 7.598,80 poin. Indeks LQ45 juga mengalami kenaikan sebesar 10,09 poin atau 1,35 persen ke posisi 756,45. Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, pelaku pasar disarankan untuk menunggu IHSG mencapai level break out sebelum memutuskan untuk menambah posisi beli. Di tengah ekspektasi dari pasar global terkait negosiasi AS-Iran, sentimen risk-on rapuh masih terasa, di mana pasar tidak perlu resolusi penuh konflik untuk bergerak naik. Meskipun adanya berita bahwa AS mulai memberlakukan blokade terhadap kapal Iran, pasar masih menilai langkah ini sebagai strategi negosiasi. Di sisi lain, harga minyak mentah global saat ini berada pada level tertentu, menghadapi tekanan dari gangguan produksi dan risiko tight supply berkepanjangan. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan eksternal seperti yield global tinggi, dolar AS kuat, serta capital outflow menjadi sorotan utama. Pemerintah mulai mendorong diplomasi energi untuk mengatasi risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak. Selain itu, Kementerian Keuangan membuka akses pembiayaan daerah dengan syarat ketat sebagai langkah menjaga momentum fiskal di tengah tekanan likuiditas. Di pasar regional, bursa saham Asia juga mengalami pergerakan yang beragam. Nikkei menguat, Shanghai menguat sedikit, sementara Hang Seng dan Strait Times mengalami penurunan. Kabar baiknya, bursa AS Wall Street menguat pada perdagangan sebelumnya. Keseluruhan, pasar terus dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan faktor eksternal yang berpotensi mempengaruhi pergerakan IHSG.








