IHSG Berpotensi Volatil Seiring Peningkatan Tensi di Timur Tengah
Jakarta (ANTARA) – Pada Kamis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak volatil di tengah meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah. Hal ini tercermin dari IHSG yang dibuka melemah 3,11 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.899,27. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 0,83 poin atau 0,14 persen ke posisi 590,31.
Tensi Politik di Timur Tengah Mempengaruhi IHSG
Penyebab utama dari potensi volatilitas ini adalah perkembangan situasi politik di Timur Tengah. Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS, Donald Trump, telah mengumumkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran, yang dapat memengaruhi stabilitas di kawasan tersebut.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang memainkan peran penting dalam pasokan minyak dunia. Trump juga mengklaim melakukan misi rahasia untuk melindungi jalur ini, namun klaim tersebut menuai kontroversi dan diragukan oleh Menteri Energi AS.
Pengaruh Kebijakan Moneter Global Terhadap IHSG
Dari sisi kebijakan moneter global, Bank of Canada mempertahankan suku bunga acuan, namun pasar tetap mencermati kemungkinan kenaikan harga energi akibat ketegangan di Timur Tengah. Hal ini juga berpotensi mempengaruhi kebijakan moneter bank sentral lainnya, seperti The Fed, ECB, dan BoJ.
Sementara itu, di dalam negeri, optimisme masyarakat terhadap perekonomian tetap kuat, meskipun beberapa indikator menunjukkan perlambatan. Survei Konsumen BI menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen terhadap ekonomi ke depan tetap tinggi, namun persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini mulai melemah.
Di sisi lain, posisi Investasi Internasional Indonesia mengalami peningkatan pada kuartal pertama 2026, yang dapat memengaruhi IHSG dalam jangka panjang. Perbaikan ini juga tercermin dari perbaikan rasio kewajiban neto terhadap PDB, yang menunjukkan stabilitas ekonomi yang lebih baik.
Secara keseluruhan, IHSG diperkirakan akan mengalami volatilitas di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Hati-hati dan kewaspadaan tetap diperlukan dalam menghadapi gejolak pasar yang mungkin terjadi.








