Setelah Berbulan-Bulan Tekanan, Rupiah Mencoba Bangkit
Rupiah Mencapai Titik Terlemah dalam Sejarah
Jakarta (ANTARA) – Rupiah mencapai titik terlemahnya dalam lebih dari seperempat abad pada penutupan perdagangan 8 Juni 2026. Berada di level Rp18.188 per dolar AS, rupiah berhasil menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Peristiwa ini menjadi yang terlemah sejak krisis moneter 1998 yang mencatatkan titik terendah di kisaran Rp16.850 per dolar AS.
Pelemahan Rupiah dan Penurunan IHSG
Pasar saham Indonesia juga ikut merasakan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan hampir sepertiga dari nilai tertingginya pada Januari 2026. Di antara bursa Asia, penurunan IHSG sejak awal tahun tercatat sebagai yang paling dalam.
Konflik di Timur Tengah menjadi pemicu tekanan dari luar negeri dengan harga minyak dunia yang melonjak, serta kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat. Investor asing terus melakukan arus keluar modal dari Indonesia, meningkatkan pelemahan rupiah.
Respons Otoritas dan Pemulihan Pasar
Bank Indonesia (BI) merespons cepat dengan menaikkan BI Rate di luar jadwal rapat reguler, yang berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah. Selain itu, pasar saham Indonesia juga mengalami pemulihan lebih dari 10 persen setelah aksi buyback saham perbankan BUMN yang terkoordinasi. CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut pasar saham domestik telah mencapai harga yang sangat murah, menarik minat investor jangka panjang.
Pemulihan pasar ini mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang Indonesia yang tetap kokoh. Proses akumulasi dalam fase pelemahan dapat membuka peluang investasi yang menarik bagi para investor.
Bagi investor, situasi pasar yang bergejolak seringkali membuka peluang baru yang menggairahkan, yang didorong oleh fondasi ekonomi yang kuat.








