Monday, August 10, 2026
HomeLainnyaAndy Utama Ajak Menjaga Kehidupan melalui Konservasi

Andy Utama Ajak Menjaga Kehidupan melalui Konservasi

Keberlanjutan bumi bergantung pada tindakan hari ini, bukan harapan yang diletakkan pada generasi masa depan. Dalam situasi darurat iklim dan percepatan kerusakan lingkungan, merawat bumi menjadi tanggung jawab serius yang harus dilakukan tanpa penundaan, sebagai amanah bagi generasi penerus.

Semangat ini tercermin dalam perayaan adat Ngertakeun Bumi Lamba XVIII di Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, Subang, yang mempertemukan tokoh budaya, spiritualis, dan pelaku lingkungan dari berbagai wilayah. Dengan mengangkat tema “Manik Maya, Ibu Bumi, Bapak Angkasa,” pertemuan suci tersebut menjadi ruang perenungan mendalam tentang peran manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar pengendali alam.

Di tengah suasana penuh hikmat itu, Andy Utama dari Paseban Foundation menegaskan urgensi bertindak kini dengan menyatakan, “Hari ini menjadi jembatan bagi hari esok.” Ucapan tersebut mengingatkan setiap peserta bahwa setiap detik adalah kesempatan untuk menanamkan kebaikan bagi kelangsungan bumi.

Landasan berpikir dalam peristiwa adat Sunda itu sejatinya telah mengakar dalam sejarah panjang perjuangan konservasi di Indonesia. Nama Emil Salim menjadi simbol pemikiran keberlanjutan sejak 1970-an, menegaskan bahwa keseimbangan lingkungan dan kemajuan sosial-ekonomi harus selaras. Pemahaman etika lingkungan ini menekankan manusia sebagai penjaga, bukan penguasa semesta.

Di kancah internasional, prinsip keadilan antargenerasi dari Richard P. Hiskes menghadirkan dimensi tanggung jawab moral agar lingkungan yang baik dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Kesadaran ini menjadikan upaya pelestarian lingkungan sebagai keharusan etik, bukan sekadar pilihan personal. Andy Utama menekankan perlunya setiap insan menanggalkan rasa superioritas terhadap alam, serta menguatkan identitas sebagai penjaga harmoni keberlanjutan.

Nilai-nilai luhur tersebut tidak hanya berhenti pada wacana. Di bawah kepemimpinan Andy dan Paseban Foundation, filosofi leluhur diwujudkan dalam gerakan langsung di Megamendung. Konservasi tak lagi sekadar diskusi; ia berubah menjadi program nyata, seperti pertanian organik yang lebih bersahabat dengan tanah dan upaya konservasi spesies langka.

Langkah konkret diwujudkan melalui pembangunan pusat konservasi fauna, pengelolaan penangkaran satwa seperti Lembah Aviary Paseban, dan program pembibitan serta penanaman puluhan ribu pohon dari ratusan jenis. Semua ini diarahkan untuk memulihkan vegetasi Megamendung agar mendekati kondisi alamiahnya di masa silam.

Gerakan ini menjadi jembatan antara teori besar dan aksi kecil yang berdampak besar. Tak hanya menjadi simbol, Andy menyatukan nilai-nilai dari Emil Salim dan Richard Hiskes dalam laku harian berupa cangkul di ladang, bibit yang ditanam, dan pemeriksaan kesehatan satwa.

Dalam perenungan akhirnya, Andy menekankan makna keberadaan manusia di bumi: “Dunia akan mengingat apa yang telah kita berikan, bukan apa yang kita kumpulkan.” Pesan kuat ini menegaskan inti dari Ngertakeun Bumi Lamba: merawat bumi hari ini berarti mencipta peluang hidup bagi generasi mendatang, sekaligus mengukir jejak bermakna dalam perjalanan umat manusia.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba XVIII: Tradisi Yang Menjadi Inspirasi Konservasi Modern
Sumber: Warisan Untuk Masa Depan: Belajar Menjaga Keseimbangan Alam Dari Ritual Ngertakeun Bumi Lamba XVIII

RELATED ARTICLES
spot_img

Paling Populer