Dispaperkan Wonosobo Berhasil Salurkan 20 Ton Jagung Bersubsidi
Dispaperkan Kabupaten Wonosobo telah melakukan kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah untuk menyalurkan 20 ton jagung pipil kering bersubsidi kepada peternak mikro ayam pedaging dan ayam petelur dalam acara Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kegiatan ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas harga bahan baku pakan ternak, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas.
Jagung Subsidi untuk 40 Peternak Mikro
Kepala Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama Satyani Budayu, mengungkapkan bahwa terdapat 40 peternak mikro yang menerima manfaat dari program ini. Masing-masing peternak memperoleh jagung pipil kering dengan harga subsidi Rp5.500 per kilogram. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar saat ini yang berkisar Rp6.500 per kilogram. Diharapkan selisih harga tersebut dapat membantu peternak menekan biaya produksi di tengah fluktuasi harga komoditas pangan.
Ia juga menjelaskan bahwa jagung yang disalurkan merupakan bantuan dari APBD Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Penyaluran dilakukan secara terarah kepada peternak yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Layer Wonosobo, sehingga program ini benar-benar menyasar pelaku usaha peternakan yang aktif dan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
Dukungan Pemerintah untuk Stabilitas Usaha Peternakan
Peternak unggas umumnya mengalokasikan sekitar 60–70 persen dari total biaya produksi untuk pakan. Oleh karena itu, fluktuasi harga jagung memiliki dampak yang signifikan terhadap keberlanjutan usaha peternakan rakyat. Melalui program subsidi ini, pemerintah tidak hanya membantu mengurangi beban biaya produksi, tetapi juga mengamati produktivitas peternakan dan kestabilan pasokan pangan asal hewan di Kabupaten Wonosobo.
Program SPHP tidak hanya berfokus pada menjaga stabilitas harga pangan dari sisi hulu, tetapi juga berperan dalam mengendalikan gejolak harga pangan secara keseluruhan. Dengan biaya produksi yang lebih terkendali, peternak diharapkan dapat mempertahankan usaha, meningkatkan produktivitas, dan menjaga stabilitas pasokan untuk masyarakat.








