OJK: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 Melebihi Target RPJMN
Saat ini, informasi tentang pencapaian indeks literasi dan inklusi keuangan pada tahun 2026 telah diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang melebihi target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Tingkat Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan
Melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, OJK mencatat bahwa indeks literasi keuangan mencapai 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka-angka ini jauh melebihi target yang ditetapkan pemerintah.
Metodologi Survei
Survei ini dilakukan dengan melibatkan sampel dari 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Metode wawancara yang digunakan adalah Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) melalui aplikasi FASIH Mobile. Sejumlah 75.000 responden telah terlibat dalam survei ini, yang dilaksanakan pada periode 26 Januari-18 Februari 2026.
Hasil survei ini menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan di perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan, dengan persentase masing-masing sebesar 72,54 persen dan 64,42 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan di pedesaan mencapai 90,39 persen, sedangkan di perkotaan mencapai 95,47 persen.
Penyajian Berdasarkan Kelamin dan Layanan Keuangan
Berdasarkan jenis kelamin, indeks literasi dan inklusi keuangan antara laki-laki dan perempuan memiliki selisih yang sangat tipis, namun mencapai angka yang memuaskan. Sedangkan berdasarkan jenis layanan keuangan, indeks literasi keuangan konvensional jauh lebih tinggi dibandingkan dengan literasi keuangan syariah.
Dengan demikian, capaian positif dalam literasi dan inklusi keuangan pada tahun 2026 menunjukkan bahwa upaya peningkatan pemahaman masyarakat Indonesia terhadap produk keuangan semakin berhasil.








