Sunday, October 11, 2026
HomeLainnyaAndy Utama Soroti Pentingnya Kelembagaan dalam Kerja Konservasi

Andy Utama Soroti Pentingnya Kelembagaan dalam Kerja Konservasi

Pada momentum perayaan Hari Konservasi Alam Nasional, Paseban Foundation kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong sinergi antarsektor dalam mendukung keberlanjutan upaya pelestarian alam. Sebagai lembaga yang telah berusia dua tahun, Paseban Foundation tidak hanya menjadi jembatan antara pengalaman lapangan dan diseminasi pengetahuan, namun juga membangun ekosistem kolaborasi yang mendukung berbagai pihak dengan latar belakang berbeda untuk bersama-sama melindungi lingkungan.

Pada Annual Dinner 2026 yang diadakan Paseban Foundation, ratusan peserta dari berbagai unsur hadir, mulai dari perwakilan pemerintah, komunitas akademik, organisasi internasional, lembaga legislatif, hingga tokoh publik dan kalangan muda. Keberagaman peserta memperlihatkan bagaimana isu konservasi telah menjadi perhatian kolektif dan membutuhkan kerja bersama lintas batas administrasi dan disiplin ilmu.

Mengangkat tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, acara tersebut memperkokoh semangat kerjasama yang diperlukan untuk melestarikan Cagar Biosfer Cibodas, khususnya Bentang Alam Megamendung. Pesan kunci yang diangkat adalah pentingnya kerja bersama yang melibatkan beragam keahlian, relasi sumber daya, dan penguatan kapasitas dari semua pemangku kepentingan.

Andy Utama selaku pendiri Paseban Foundation menyoroti bahwa pelestarian alam adalah proses berkelanjutan yang tak cukup diemban satu pihak atau satu generasi saja. Dibutuhkan kesinambungan dan regenerasi, agar kerja keras di bidang konservasi tidak terhenti ketika satu angkatan selesai mengabdi. Menurut Andy, “Konservasi merupakan pekerjaan jangka panjang yang wajib diwariskan ke generasi berikutnya agar tetap hidup.”

Paseban Foundation pun menempatkan perannya bukan sebagai pusat seluruh aktivitas konservasi, melainkan sebagai penggerak utama kolaborasi dan pertukaran pengetahuan. Lembaga ini menjadi penghubung yang memungkinkan setiap aktor membawa kompetensi dan tanggung jawabnya untuk merawat alam tanpa batasan sektoral.

Pengalaman nyata di Megamendung memperlihatkan bagaimana aksi konservasi dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya lewat perlindungan habitat atau penanaman ribuan pohon lokal, tetapi juga dengan kegiatan ekosistem ex-situ seperti penangkaran satwa nonkomersial, yang bahkan telah membuahkan hasil berupa kelahiran anak rusa. Kegiatan lain seperti survei keanekaragaman hayati, pemasangan kamera jebak, dan pemantauan langsung turut menjadi bagian upaya pelestarian kawasan tersebut.

Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation, melaporkan bahwa hasil observasi membuktikan keberadaan spesies primata endemik di kawasan yang relatif sempit tersebut. Tidak hanya itu, satwa-satwa penting seperti Macan Tutul Jawa dan Elang Jawa juga tercatat masih bertahan di Megamendung. Dengan tekanan populasi manusia yang tinggi di Pulau Jawa, keberadaan makhluk-makhluk ini menjadi indikator penting kesehatan lingkungan.

Paseban Foundation juga menekankan pentingnya memanfaatkan data hasil lapangan sebagai sumber pengetahuan yang dapat digunakan untuk mendukung pendidikan, penelitian, advokasi, hingga pengambilan kebijakan. Transformasi data menjadi pengetahuan dijalankan melalui peluncuran buku, film dokumenter, dan berbagai dokumentasi ilmiah serta edukasi publik. Buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”, beserta penayangan film “The Silent Resilience”, adalah contoh konkret hasil kerja tersebut.

Lingkup kerja knowledge management dinilai esensial agar pengetahuan yang diperoleh bisa tersebar luas serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi. Hal ini menjadi kunci dalam menciptakan dampak berkelanjutan dan inovasi bagi berbagai program lingkungan.

Dukungan terhadap peran generasi muda juga menjadi perhatian utama para pemangku kebijakan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan bahwa kolaborasi dan penyebarluasan pengetahuan berbasis data perlu terus ditingkatkan agar tercipta ekosistem diskusi publik yang produktif mengenai konservasi. Sementara itu, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menegaskan perlunya transfer tanggung jawab kepada generasi penerus agar kesinambungan pelestarian alam dapat terjaga.

Konsensus semua pihak terlihat jelas: kolaborasi adalah kata kunci untuk pengelolaan bentang alam yang holistik. Wiratno selaku penasihat Paseban Foundation mengingatkan bahwa pengelolaan ekosistem tidak boleh terbelenggu oleh batas administrasi – air, hutan, satwa, dan manusia harus dipandang sebagai satu kesatuan yang memerlukan integrasi lintas lini. “Kepemimpinan organisasi bentang alam adalah tentang mempertemukan dan mengolaborasikan beragam kepentingan demi satu tujuan bersama,” tegasnya.

Dengan menanamkan prinsip kolaborasi, regenerasi, dan manajemen pengetahuan, Paseban Foundation berharap kerja pelestarian Bentang Alam Megamendung dapat berlangsung secara konsisten dan berjangka panjang. Tujuan akhirnya adalah memastikan bahwa upaya konservasi tidak pernah berhenti, melainkan menjadi tongkat estafet yang diserahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut

RELATED ARTICLES
spot_img

Paling Populer