Operasi Pasar Bulog untuk Redam Potensi Inflasi Pangan
Jakarta – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Dipo Satria Ramli, menganggap operasi pasar Perum Bulog akan menjadi prioritas jangka pendek pemerintah untuk meredam potensi tekanan inflasi pangan pada bulan September 2026. Menurut Dipo, inflasi pangan menjadi perhatian utama pada kuartal III dan IV 2026, terutama dengan risiko gangguan pasokan akibat El Nino.
Solusi Jangka Pendek untuk Stabilisasi Harga
Dipo menyoroti pentingnya stabilisasi harga beras dan cabai sebagai langkah prioritas untuk mengatasi kenaikan harga pangan. Harga beras dan cabai telah mencapai tingkat yang cukup tinggi, sehingga langkah-langkah pemerintah dianggap perlu segera diambil.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga beras dan cabai saat ini berada pada level yang tinggi. Di tengah kondisi tersebut, operasi pasar Bulog dianggap sebagai salah satu solusi untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.
Antisipasi Risiko Inflasi Akibat El Nino
Dipo juga mengingatkan bahwa risiko El Nino dapat berdampak pada pasokan sejumlah komoditas pangan dalam beberapa bulan ke depan. Komoditas seperti beras, cabai, bawang merah, dan bawang putih menjadi sorotan utama yang perlu diawasi dengan cermat.
Hingga saat ini, pemerintah telah menjalankan langkah-langkah stabilisasi pangan melalui berbagai program, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Gerakan Pangan Murah (GPM). Dukungan fiskal juga diusulkan oleh Dipo untuk membantu sektor pangan menghadapi dampak El Nino, seperti subsidi benih, pupuk, dan air.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga telah memperkuat pengendalian inflasi melalui berbagai tim dan program, termasuk Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Selain itu, keputusan pemerintah untuk menjaga harga BBM subsidi dan tarif listrik dianggap sebagai langkah yang tepat untuk melindungi daya beli masyarakat, terutama golongan berpendapatan rendah.








