Membangun Sistem Regulasi dan Pengawasan Berlapis untuk Memastikan Objektivitas Price Discovery BMKS
Jakarta (ANTARA) – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menyoroti pentingnya arsitektur regulasi dan pengawasan yang kuat guna menjaga objektivitas pembentukan harga bursa mineral dan komoditas strategis (BMKS). Menurut Rahma, hal ini diperlukan agar harga mencerminkan supply-demand dan terhindar dari manipulasi oleh pemain besar.
Arsitektur Regulasi yang Diperlukan
Menurut Rahma, regulator dan bursa harus menetapkan batasan maksimal jumlah kontrak atau volume fisik yang dapat dikuasai oleh satu entitas atau kelompok usaha terkait secara bersamaan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah dominasi oleh satu atau dua pemain besar yang dapat mengendalikan harga pasar sesuai keinginan mereka.
Rahma juga menekankan pentingnya proses verifikasi identitas yang ketat bagi setiap pelaku pasar. Selain itu, pemisahan yang jelas antara dana perantara dan klien serta pelaporan posisi terbuka secara real-time kepada otoritas pengawas juga merupakan langkah krusial dalam menjaga keberlangsungan price discovery yang objektif.
Implementasi Sistem Pengawasan Berbasis Kecerdasan Buatan
Rahma menyoroti perlunya implementasi sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan (AI-driven surveillance) yang mampu mendeteksi pola transaksi mencurigakan secara otomatis. Dengan sistem ini, transaksi silang antarafiliasi yang bertujuan mengelabui pasar dapat terdeteksi dengan lebih efektif, sehingga integritas bursa dapat dipertahankan.
Rahma juga menegaskan pentingnya penerapan sanksi administratif hingga pidana yang tegas terhadap praktik perdagangan curang, manipulasi, atau penyalahgunaan posisi dominan. Penegakan hukum yang konsisten diharapkan dapat memberikan efek jera kepada pelaku pasar dan menjaga kepercayaan pasar secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, Rahma meyakini bahwa dengan sistem regulasi dan pengawasan yang kokoh, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi price-maker untuk komoditas tertentu. Namun, hal ini memerlukan konsistensi dalam kebijakan hilirisasi dan regulasi ekspor agar harga yang terbentuk di bursa domestik dapat menjadi acuan bagi pembeli internasional.
Dengan langkah-langkah yang tepat dan konsisten, Indonesia dapat memperkuat posisinya dalam pasar global dan memberikan kontribusi yang lebih signifikan dalam pembentukan harga komoditas strategis.








