Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali menguji level psikologis 6.000, meski pada perdagangan Jumat pagi indeks masih bergerak positif. IHSG dibuka naik 8,58 poin atau 0,14 persen ke posisi 6.018,08, sedangkan indeks LQ45 menguat 0,90 poin atau 0,15 persen ke level 593,28.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, memperingatkan bahwa penutupan IHSG di bawah 6.000 dapat membuka peluang pelemahan lanjutan menuju kisaran 5.800–5.900. Level tersebut menjadi area berikutnya yang berpotensi diuji apabila tekanan jual kembali menguat.
Sentimen global masih menjadi perhatian
Pergerakan pasar global dipengaruhi perubahan minat investor terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar mulai beralih dari aksi melepas surat utang pemerintah menjadi membelinya, terutama pada instrumen dengan jangka waktu lebih pendek yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Minat terhadap obligasi tenor pendek menguat seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Namun, obligasi dengan tenor lebih panjang masih menghadapi tekanan karena investor mencermati risiko inflasi dalam jangka panjang. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,243 persen pada Kamis (1/10).
Harga minyak juga bergerak naik setelah muncul laporan bahwa kapal induk USS Theodore Roosevelt akan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir November. Minyak mentah Brent pada Kamis ditutup menguat 4,4 persen menjadi 102 dolar AS per barel. Kenaikan itu dipicu kekhawatiran terhadap eskalasi serangan AS ke Iran setelah pemilu sela AS pada November.
Sentimen di bursa Asia pada Jumat pagi berlangsung beragam. Nikkei turun 0,62 persen ke 68.532,50, KOSPI melemah 0,47 persen ke 6.938,27, dan Hang Seng terkoreksi 2,37 persen ke 24.031,00. Sebaliknya, Shanghai naik 0,23 persen ke 3.839,25 dan Straits Times menguat tipis 0,05 persen ke 5.670,70.
Inflasi dan neraca perdagangan Indonesia
Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, meningkat dari 3,19 persen pada Agustus. Inflasi bulanan berada di level 0,30 persen, sementara inflasi inti mencapai 2,84 persen secara tahunan.
Menurut kajian Phintraco Sekuritas, inflasi inti yang masih relatif terkendali menunjukkan tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat. Kondisi itu diperkirakan belum memberikan tekanan besar kepada Bank Indonesia untuk mengetatkan kebijakan moneter. Meski demikian, kenaikan harga pangan perlu dicermati karena berpotensi mendorong tekanan inflasi berikutnya dan mengurangi daya beli konsumen.
Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus 3,55 miliar dolar AS, meningkat tajam dibandingkan surplus 120 juta dolar AS pada Juli. Ekspor mencapai 26,61 miliar dolar AS atau tumbuh 6,72 persen secara tahunan, sedangkan impor tercatat 23,06 miliar dolar AS dengan pertumbuhan 19,09 persen.
Laju impor yang lebih cepat daripada ekspor dinilai perlu diawasi karena dapat mempersempit surplus perdagangan ke depan, terutama apabila permintaan global dan harga komoditas mengalami pelemahan.
Sebelumnya, bursa Eropa ditutup melemah pada Kamis. Euro Stoxx 50 turun 1,48 persen, FTSE 100 Inggris 1,68 persen, DAX Jerman 1,03 persen, dan CAC 40 Prancis 1,62 persen. Di Amerika Serikat, Wall Street justru menguat dengan S&P 500 naik 0,19 persen ke 7.666,45, Nasdaq Composite 0,04 persen ke 26.871,60, dan Dow Jones Industrial Average 0,04 persen ke 50.926,56.








