Dalam rangka mencegah meluasnya pemutusan hubungan kerja (PHK), ekonom M. Rizal Taufikurahman menekankan pentingnya langkah strategis yang perlu diambil oleh pemerintah. Salah satu langkah yang disarankan adalah memberikan insentif kepada industri yang terdampak. Selain itu, diversifikasi produk dan pasar domestik maupun ekspor juga diperlukan untuk mengurangi dampak PHK.
Beberapa faktor utama yang menjadi penyebab PHK di industri manufaktur antara lain kebangkrutan perusahaan, restrukturisasi bisnis, biaya produksi yang tidak efisien, dan penurunan permintaan atau pasar. Contohnya, perusahaan seperti Sritex dan Yamaha Music Product Asia mengalami masalah serupa yang berujung pada PHK ribuan pekerja.
Meskipun sektor manufaktur secara keseluruhan menunjukkan pertumbuhan positif, kondisi individual perusahaan bisa berbeda akibat karakter bisnis, pasar, dan faktor eksternal seperti perubahan pola konsumsi atau persaingan global. Rizal juga mengingatkan bahwa tren PHK ini bisa menjadi peringatan bagi industri manufaktur di Indonesia dalam jangka panjang.
Untuk mengatasi potensi PHK massal, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pekerja sangat diperlukan. Hal ini juga akan membantu menciptakan ekosistem yang memastikan stabilitas ketenagakerjaan dalam industri manufaktur. Perlu adanya fokus pada keberlanjutan tenaga kerja, bukan hanya pada pertumbuhan angka produksi semata. Dalam situasi seperti ini, kebijakan yang terfokus dan kolaboratif sangat diperlukan untuk mencegah PHK yang lebih luas di sektor padat karya.








