Bursa regional Asia merespons hasil rapat FOMC The Fed yang menunjukkan adanya kemungkinan pemotongan suku bunga pada akhir tahun ini. Di Indonesia, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami kenaikan dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi. Dalam kajiannya, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyatakan bahwa Bursa regional Asia mengalami pergerakan yang beragam sebagai respons terhadap keputusan The Fed tersebut.
Dari Amerika Serikat, para pejabat kebijakan memprediksi dua pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin dalam satu tahun. Sementara itu, ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa keputusan yang diambil tidak akan terburu-buru, hal ini mengindikasikan tantangan yang dihadapi oleh pembuat kebijakan dalam menghadapi rencana tarif impor dari AS dan dampaknya terhadap perekonomian.
Di dalam negeri, IHSG terus mengalami penguatan yang didukung oleh aksi emiten konglomerasi dan BUMN meningkatkan aksi beli. Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan sejalan dengan upaya menjaga inflasi dan stabilitas mata uang rupiah. Investor semakin berminat dengan kebijakan buyback tanpa persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) yang diterapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pasar juga menunggu langkah kebijakan selanjutnya dari pemerintah terkait komitmen untuk disiplin fiskal dan kebijakan pro-pertumbuhan. Di pasar saham regional Asia, terdapat pergerakan yang beragam antara lain Indeks Nikkei yang menguat, indeks Shanghai yang melemah, indeks Kuala Lumpur yang mengalami penurunan, serta indeks Straits Times yang mengalami kenaikan. Frekuensi perdagangan saham juga tercatat sebanyak 1.093.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 16,17 miliar lembar saham senilai Rp11,30 triliun.








