Lebaran di Indonesia selalu dirayakan dengan berbagai tradisi unik, salah satunya adalah sungkeman. Tradisi ini memungkinkan anggota keluarga yang lebih muda untuk bersimpuh di hadapan orang tua atau sesepuh, memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan. Umat Muslim sering bertanya mengenai pandangan Islam terhadap sungkeman. Menurut NU Online, tradisi sungkeman saat Lebaran bisa dilihat dari dua sudut pandang dalam Islam, yaitu hukum asal dan perspektif tradisi.
Dari sudut pandang hukum Islam, sungkeman tidak bertentangan dengan ajaran Islam asal tidak menyerupai gerakan ibadah. Mencium tangan orang lebih tua sebagai bentuk penghormatan diizinkan, seperti yang dijelaskan oleh Al-Imam al-Nawawi dalam kitabnya. Bahkan, menghormati orang yang memiliki keutamaan bisa menjadi amalan yang dianjurkan dalam Islam. Berdiri untuk menghormati seseorang yang dihormati juga termasuk perbuatan yang dianjurkan.
Dari perspektif tradisi, sungkeman adalah warisan budaya yang sejalan dengan ajaran Islam jika tidak mengandung unsur kemaksiatan. Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk berperilaku baik kepada sesama. Beretika yang baik adalah menyesuaikan diri dengan tradisi selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sungkeman saat Lebaran merupakan cara untuk mempererat hubungan keluarga, menjaga silaturahim, dan menunjukkan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Islam memandang tradisi lokal sebagai sesuatu yang patut dilestarikan asalkan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Dalam konteks Lebaran, sungkeman merupakan salah satu tradisi yang bisa memperindah suasana sambil tetap memperkuat rasa kekeluargaan. Tradisi ini mengajarkan kami untuk senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesama serta menghormati orang yang lebih tua sebagai bagian dari akhlak yang terpuji.








