Badan PBB urgensi mendesak di Myanmar setelah gempa bumi 7,7 magnitudo mengakibatkan kekurangan air, obat-obatan, makanan, dan tempat tinggal. Koordinator Kemanusiaan OCHA untuk Myanmar, Marcoluigi Corsi, menyatakan bahwa waktu untuk merespons semakin sempit dengan jumlah korban dan korban jiwa yang diperkirakan akan terus meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan rumah sakit di Myanmar kewalahan dengan jumlah pasien dan persediaan medis yang hampir habis, disertai kekurangan air bersih dan bahan bakar. UNICEF juga menyoroti kebutuhan yang terus berkembang setiap jam, terutama dalam hal air bersih, makanan, dan pasokan medis.
Julia Rees dari UNICEF menekankan bahwa situasi krisis kemanusiaan di Myanmar semakin bertambah rumit dengan dampak gempa bumi yang semakin memperparah kondisi keluarga yang sudah rentan sebelumnya. Suhu yang tinggi di negara itu membuat air menjadi kebutuhan paling mendesak, terlebih lagi pipa air dan septic tank mengalami kerusakan. UNHCR menyebut situasi di Myanmar sebagai krisis kemanusiaan tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dengan jumlah korban tewas mencapai ribuan orang dan ribuan orang lainnya yang luka-luka atau hilang.
Pentingnya pendanaan darurat dan identifikasi kebutuhan kritis di wilayah yang paling terdampak seperti Mandalay, Magway, dan Sagaing juga diungkapkan oleh badan-badan PBB. Sementara pemimpin junta Myanmar melaporkan jumlah korban tewas dan luka-luka yang terus bertambah akibat gempa bumi tersebut. Dengan masih banyaknya orang yang belum ditemukan, dikhawatirkan jumlah korban jiwa akan terus meningkat seiring berjalannya waktu. Myanmar telah menetapkan tujuh hari berkabung nasional sebagai respons terhadap bencana ini, namun upaya penanganan darurat dan penyelamatan terus diupayakan untuk membantu memenuhi kebutuhan mendesak yang ada.








