Pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi oleh respons negatif negara-negara terhadap kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Menurut Ariston Tjendra dari PT Doo Financial Futures, sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Pasar khawatir akan kondisi ekonomi global yang tidak stabil akibat perang dagang yang dipicu oleh kebijakan tarif AS. Hal ini membuat para pelaku pasar beralih dari aset berisiko ke aset aman. Penurunan kurs rupiah juga dipengaruhi oleh data tenaga kerja nonfarm payrolls AS yang lebih positif dari proyeksi. Sentimen negatif juga muncul dari konflik yang terus berlanjut di beberapa wilayah dengan tensi yang meningkat. Meskipun pada pembukaan perdagangan hari Senin kurs rupiah melemah, pasar masih menunggu respons terhadap hasil negosiasi yang akan berdampak pada harga aset berisiko. Ariston berharap bahwa Trump bisa melunak yang akan membawa dampak positif bagi harga aset berisiko.








