Pasar saham di Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik meskipun kondisi global yang tidak menentu akibat pengumuman kebijakan tarif impor baru oleh Presiden AS. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti kinerja IHSG yang stabil dan lebih baik dibandingkan negara lain. Fondasi ekonomi Indonesia yang kuat menjadi faktor pendukungnya, dengan pertumbuhan kredit yang masih tinggi, belanja domestik meningkat saat Ramadhan, dan surplus neraca perdagangan. Meskipun terdapat tekanan global yang mempengaruhi pelemahan IHSG, Indonesia dinilai lebih tangguh dari negara lain seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Prancis.
Pergerakan IHSG yang hanya melemah 7,9 persen sejak pengumuman kebijakan tarif impor baru, menunjukkan respons positif pasar terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. Hal ini didorong oleh eksposur Indonesia yang lebih rendah terhadap pasar AS, yang hanya berkontribusi sekitar 2,2 persen terhadap PDB. Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi stabil, inflasi terkendali, dan kecukupan modal perbankan yang tinggi. Meskipun Indonesia termasuk dalam daftar negara yang terkena kenaikan tarif AS, pasar masih dianggap terbuka bagi investasi.
Dengan kondisi ekonomi yang kuat, Indonesia mampu menghadapi gejolak global dan mengamankan ketahanan pasar saham. Dukungan fondasi ekonomi yang kokoh, pertumbuhan kredit yang tinggi, dan eksposur rendah terhadap pasar eksternal menjadi faktor penunjang dalam menjaga stabilitas pasar saham Indonesia di tengah ketidakpastian global.








