Serial Malaysia “Bidaah” telah menjadi perbincangan hangat karena mengangkat isu agama yang sensitif namun relevan. Istilah “bid’ah” menjadi pusat perhatian dalam alur ceritanya, membuat banyak penonton penasaran dan bingung. Namun, apa sebenarnya arti bid’ah dalam ajaran Islam? Dalam memahami istilah ini secara mendalam, penting bagi kita untuk kembali menggali maknanya.
Bid’ah berasal dari kata bada’a, artinya menciptakan hal baru. Namun, dalam konteks agama, bid’ah berarti menciptakan hal baru dalam urusan agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, baik dalam keyakinan maupun dalam ibadah. Disini, penting untuk memahami bahwa bid’ah adalah cara beragama yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, namun dilakukan seolah-olah sebagai bagian dari ajaran Islam. Ada dua ciri utama dari bid’ah: pertama, praktik tersebut menyerupai ajaran agama; kedua, diyakini sebagai bentuk ibadah kepada Allah.
Ada beberapa contoh bid’ah yang diharamkan dalam agama Islam. Pertama, aliran sesat yang menyimpang dari ajaran Islam, kedua, tabarruk atau mencari berkah dari tempat atau benda, dan ketiga, bid’ah dalam ibadah. Contoh-contoh bid’ah dalam ibadah adalah mengeraskan niat saat salat, mengadakan salat atau amalan tertentu tanpa dalil, dan merayakan ulang tahun Nabi atau peringatan tertentu seolah itu bagian dari ibadah yang berpahala. Dalam hadis Rasulullah SAW juga pernah menyebutkan bahwa amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam akan ditolak.
Kesimpulannya, Islam adalah agama yang sempurna dan lengkap. Tidak ada kebutuhan untuk menambah atau mengurangi dalam hal ibadah maupun keyakinan. Menjaga kemurnian ajaran Islam adalah bentuk kecintaan terhadap Rasulullah dan upaya untuk tetap berada di jalan yang lurus. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami syariat dengan benar agar tidak terjebak dalam praktik yang justru menjauhkan dari ajaran Islam yang sebenarnya.








