Menurut pelatih sepak bola Timo Scheunemann, liga sepak bola putri profesional sebaiknya tidak diikuti oleh terlalu banyak tim peserta. Dia menyarankan agar jumlah tim dalam liga pro tersebut tidak terlalu banyak, misalnya delapan kota saja, dan dihubungkan dengan universitas. Hal ini dapat membantu menjaga keberlanjutan tim dan meningkatkan iklim sepak bola putri.
Menurut Scheunemann, dengan jumlah tim yang tidak terlalu banyak, roda kompetisi dapat berjalan dengan lebih efisien. Dia menekankan pentingnya menjadikan sepak bola sebagai jalur pendidikan bagi para pemain putri sehingga orang tua lebih mendukung anak-anak mereka dalam bermain sepak bola. Menurutnya, hal ini lebih realistis diterapkan di Indonesia mengingat banyak atlet putri pada usia tertentu sudah menikah dan memiliki kewajiban lain.
PSSI sendiri telah merencanakan untuk menggulirkan kompetisi sepak bola putri secara reguler di usia dini dengan Piala Pertiwi untuk usia 14 dan 16 tahun. Kompetisi ini ditargetkan menjadi Liga 1 Putri yang rencananya akan digelar pada tahun 2027. Meski Indonesia belum memiliki kompetisi sepak bola putri yang aktif, timnas putri berhasil mengukir prestasi dengan menjuarai Piala AFF pada Desember 2024.
Dengan adanya rencana pengembangan kompetisi sepak bola putri di Indonesia, diharapkan dapat memberikan kesempatan lebih banyak bagi para pemain putri untuk berkembang dan menunjukkan potensi mereka dalam dunia sepak bola. Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat terhadap sepak bola putri dan membantu membina bakat-bakat muda yang berpotensi di masa depan.








