Menteri Perdagangan Indonesia, Budi Santoso, kembali menegaskan dukungan Indonesia kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam pertemuan bilateral dengan Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala di Jeju, Korea Selatan. Indonesia menyatakan dukungannya terhadap WTO sebagai sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, bertujuan untuk meredakan ketegangan perdagangan dan mencegah tindakan sepihak yang dapat merusak sistem perdagangan global. Budi menyampaikan kekhawatiran terhadap tren proteksionisme yang semakin meningkat saat ini, dan mengakui WTO sebagai satu-satunya sistem perdagangan multilateral yang transparan, inklusif, dan berbasis aturan.
Indonesia memprioritaskan dukungan untuk penguatan fungsi WTO melalui reformasi, dengan mempertimbangkan aspek pembangunan serta prinsip special and differential treatment (S&DT). Budi yakin bahwa reformasi WTO akan meningkatkan relevansi dan efektivitas WTO dalam menghadapi tantangan global. Di sisi lain, Direktur Jenderal WTO, Ngozi, mengapresiasi langkah yang diambil oleh negara-negara anggota ASEAN dalam merespons dinamika perdagangan global. Ngozi menekankan pentingnya mekanisme dialog sebagai pendekatan utama dalam menyelesaikan permasalahan perdagangan, bukan dengan tindakan retaliasi.
Ngozi berharap dukungan penuh dari semua anggota, termasuk Indonesia, dalam proses reformasi WTO untuk memperkuat efektivitas dan relevansi organisasi internasional tersebut. Dalam menghadapi tantangan global saat ini dan masa depan, Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung WTO sebagai sistem perdagangan multilateral yang berprinsip pada prediktabilitas, transparansi, nondiskriminasi, dan persaingan yang adil. Dukungan Indonesia terhadap WTO sebagai pengatur perdagangan global juga merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kredibilitas WTO dan meningkatkan perannya dalam mengatasi masalah perdagangan.








