Generasi muda, terutama Gen Z, dilihat memiliki peran strategis sebagai katalis transformasi digital di sektor keuangan Indonesia. Literasi keuangan digital bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan esensial dalam menghadapi perkembangan ekosistem keuangan yang terus berubah. Teknologi blockchain, kecerdasan buatan, dan big data telah membuka peluang baru sekaligus tantangan dalam pengelolaan keuangan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk bijak dalam mengelola keuangan digital dan mewaspadai potensi penipuan di era layanan keuangan berbasis teknologi. Angka penipuan di keuangan digital masih tinggi karena literasi keuangan masyarakat Indonesia masih terbilang rendah. Dalam upaya mengatasi hal ini, OJK terus mengembangkan inovasi teknologi di sektor keuangan dan memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kepada lebih dari 200 mahasiswa di Kota Sorong, Papua Barat, tentang pentingnya literasi keuangan digital. Adopsi layanan keuangan berbasis teknologi semakin marak, namun pemahaman mengenai legalitas, logika investasi, dan risiko harus menjadi dasar sebelum memilih produk keuangan digital.
Kegiatan Digital Financial Literacy merupakan bagian dari program literasi tahunan OJK yang dirancang untuk mengatasi rendahnya indeks literasi keuangan digital di tengah tingginya adopsi layanan keuangan berbasis teknologi. OJK berkomitmen untuk terus mendidik masyarakat agar dapat memanfaatkan produk keuangan digital dengan bijak, aman, dan bertanggung jawab. Kesenjangan antara indeks literasi keuangan dan inklusi keuangan menunjukkan bahwa banyak masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa pemahaman yang memadai, yang berpotensi menimbulkan risiko. Melalui kegiatan literasi keuangan digital, OJK berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna aktif, tetapi juga pelaku inovasi di sektor keuangan digital. Semua upaya ini bertujuan untuk memastikan transformasi digital di sektor keuangan dapat dioptimalkan secara merata di seluruh Indonesia.








