Pasar modal merupakan instrumen penting dalam mendukung pembangunan inklusif dan berkelanjutan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat untuk meningkatkan literasi dan kecerdasan dalam berinvestasi di era digital. Dia menegaskan bahwa investasi tidak lagi eksklusif bagi korporasi besar, melainkan dapat diakses oleh berbagai pihak mulai dari masyarakat, pelaku UMKM, hingga generasi muda untuk turut serta dalam transformasi ekonomi melalui pasar modal. Jawa Timur sendiri menyumbang hampir 15 persen terhadap PDB nasional, sehingga inovasi dalam pembiayaan pembangunan menjadi kebutuhan mendesak. Pasar modal di Jawa Timur menunjukkan tren positif dengan 58 perusahaan asal Jatim telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga kuartal I 2025. Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap dana yang terkumpul melalui penawaran umum (IPO). Pengetahuan dan literasi masyarakat dalam pasar modal perlu ditingkatkan guna menciptakan keseimbangan dan keberlanjutan. Kolaborasi antara berbagai pihak seperti BEI, OJK, lembaga pendidikan, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membuahkan hasil dalam memperluas akses dan edukasi keuangan. Proyeksi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diprediksi mencapai 4,7 hingga 5,5 persen pada tahun 2025, didorong oleh konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi. Hal ini menunjukkan pentingnya pasar modal yang kuat dalam memperkuat pembiayaan pembangunan untuk menjadikan ekonomi lebih inklusif. Gubernur Khofifah juga mengajak semua elemen masyarakat untuk membangun budaya investasi yang bertanggung jawab, cerdas, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kolaborasi dalam memperluas inklusi keuangan dan mendorong ekonomi rakyat naik kelas melalui pasar modal menjadi kunci keberhasilan dalam membangun masa depan ekonomi yang lebih baik.








