Menurut Christopher Tahir, co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, pelaku pasar disarankan untuk fokus pada trading jangka pendek aset kripto di tengah potensi pelonggaran moneter global. Dia menilai bahwa harga kripto masih memiliki ruang untuk menguat namun dengan keterbatasan pada semester II-2025, mengingat kemungkinan meredanya perang dagang dan potensi pelonggaran moneter di tingkat global. Christopher menekankan pentingnya menggunakan momentum ini untuk melakukan trading jangka pendek sebagai strategi yang tepat.
Saat ini, sentimen terhadap kripto masih dipengaruhi oleh potensi pelonggaran moneter yang dilakukan bank sentral, meskipun perang dagang global masih menjadi ancaman yang harus diwaspadai. Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) berada dalam tekanan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuannya, terutama dengan adanya kekhawatiran terhadap potensi inflasi akibat kebijakan tarif resiprokal yang dijalankan Presiden AS Donald Trump.
Harga aset kripto terbesar seperti Bitcoin dan Ethereum juga terpantau pada level tertentu. Bitcoin diperdagangkan seharga 116.454 dolar AS per koin atau setara Rp1,90 miliar per koin, sedangkan Ethereum berada di level 3.726 dolar AS per koin atau setara Rp60,83 juta per koin. Sementara itu, AS telah mencapai kesepakatan perang dagang dengan beberapa negara mitra dagang dan berpotensi mencapai kesepakatan baru dengan Uni Eropa (UE).
Dalam waktu dekat, The Fed akan mengadakan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menentukan kebijakan terkait suku bunga acuan. Hal ini menyusul kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kantor The Fed di Washington DC dan pertemuan dengan Ketua The Fed Jerome Powell. Permintaan Trump untuk menurunkan suku bunga acuan The Fed menunjukkan adanya dorongan untuk mengatasi masalah ekonomi global yang sedang terjadi.








